Tahun 2025 menjadi babak baru dalam dunia pariwisata.
Setelah pandemi global memaksa banyak orang untuk menunda perjalanan, kini tren traveling kembali bangkit — tapi dengan wajah yang berbeda.
Wisata bukan lagi sekadar soal tempat yang dikunjungi, melainkan tentang pengalaman yang berkesan, berkelanjutan, dan terkoneksi secara digital.
Teknologi dan kesadaran lingkungan menjadi dua pilar utama yang mengubah cara orang merencanakan, menjalani, dan membagikan pengalaman liburannya.
Indonesia pun tak ketinggalan.
Sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam luar biasa, konsep sustainable travel dan smart tourism kini mulai diimplementasikan di berbagai destinasi.
◆ Smart Tourism: Ketika Teknologi Membuat Liburan Lebih Pintar
Dulu, merencanakan liburan membutuhkan banyak waktu dan tenaga.
Namun sekarang, semua bisa dilakukan hanya lewat smartphone.
Dengan munculnya AI travel assistant, wisatawan bisa mendapat rekomendasi destinasi, rute, hingga hotel berdasarkan preferensi pribadi.
Aplikasi seperti Traveloka dan Tiket.com bahkan mulai menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk menyesuaikan promo dan itinerary sesuai kebiasaan pengguna.
Di beberapa kota besar seperti Bali dan Yogyakarta, pemerintah daerah juga menerapkan smart tourism system — memadukan data pengunjung, kondisi cuaca, dan kapasitas destinasi secara real-time.
Tujuannya: mengatur arus wisata agar tetap aman dan nyaman tanpa merusak lingkungan.
Smart tourism membuat pengalaman traveling jadi lebih efisien, personal, dan terkoneksi.
◆ Eco-Travel: Wisata yang Tak Sekadar Indah, Tapi Bertanggung Jawab
Tren eco-travel atau wisata ramah lingkungan makin kuat di 2025.
Wisatawan kini lebih sadar akan dampak perjalanan mereka terhadap alam dan budaya lokal.
Konsep ini mendorong perubahan besar dalam industri pariwisata — dari penginapan, transportasi, hingga aktivitas wisata.
Misalnya, banyak resort di Bali dan Lombok kini menerapkan sistem energi terbarukan, pengelolaan sampah terpadu, serta larangan penggunaan plastik sekali pakai.
Selain itu, komunitas lokal juga mulai dilibatkan dalam kegiatan pariwisata.
Wisatawan diajak untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, mempelajari budaya, dan ikut menjaga kelestarian alam.
Eco-travel mengubah cara pandang terhadap liburan: bukan hanya untuk menikmati, tapi juga untuk memberi dampak positif.
◆ Virtual Tourism: Menjelajah Dunia Tanpa Keluar Rumah
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, muncul satu tren baru yang menarik: virtual tourism.
Dengan bantuan VR (Virtual Reality) dan AR (Augmented Reality), orang kini bisa menjelajahi destinasi wisata tanpa harus benar-benar pergi ke sana.
Misalnya, tur virtual Candi Borobudur yang bisa diakses dari rumah dengan tampilan 360 derajat, lengkap dengan pemandu digital.
Museum, taman nasional, bahkan kota-kota ikonik dunia kini mulai membuka tur digital mereka.
Tren ini bukan sekadar hiburan, tapi juga solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu, biaya, atau kondisi kesehatan.
Virtual tourism juga membantu promosi destinasi dengan cara yang lebih menarik dan inklusif.
Di masa depan, kemungkinan besar wisata digital akan menjadi bagian dari strategi pariwisata global.
◆ Traveling Berbasis Komunitas: Liburan yang Punya Makna Sosial
Bagi generasi muda, liburan kini bukan cuma soal foto-foto cantik di Instagram.
Banyak yang memilih perjalanan berbasis komunitas — seperti voluntourism atau eco-community trip.
Contohnya, ikut program penanaman mangrove di pesisir Jawa, membantu konservasi penyu di Bali, atau mendukung ekonomi kreatif lokal di Nusa Tenggara.
Konsep ini menggabungkan kesenangan berlibur dengan kontribusi sosial.
Wisatawan bukan hanya pengunjung, tapi juga bagian dari perubahan positif di tempat yang mereka datangi.
Beberapa startup travel di Indonesia mulai menyediakan paket wisata berbasis misi sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan cara ini, traveling jadi lebih bermakna dan berdampak nyata.
◆ Digital Nomad dan Workation: Bekerja Sekaligus Berlibur
Perubahan pola kerja pasca-pandemi melahirkan tren baru: workation — bekerja sambil liburan.
Bali, Bandung, dan Labuan Bajo kini menjadi destinasi favorit para digital nomad dari berbagai negara.
Banyak kafe, coworking space, dan vila yang menawarkan fasilitas internet super cepat, ruang kerja nyaman, dan suasana santai.
Bagi generasi pekerja digital, traveling kini bukan lagi jeda dari pekerjaan, tapi bagian dari gaya hidup produktif.
Bahkan pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Digital Nomad Visa untuk menarik wisatawan jangka panjang yang bekerja secara remote.
Tren ini membuktikan bahwa pariwisata dan produktivitas bisa berjalan beriringan.
◆ Teknologi Hijau dalam Transportasi Wisata
Transportasi menjadi salah satu sumber emisi terbesar dalam industri pariwisata.
Tapi di 2025, inovasi teknologi mulai mengubah hal itu.
Penggunaan kendaraan listrik (EV) meningkat di destinasi wisata populer seperti Ubud dan Bandung.
Banyak hotel dan tempat wisata menyediakan stasiun pengisian daya untuk mobil listrik dan sepeda elektrik.
Selain itu, beberapa startup Indonesia mulai mengembangkan sistem eco-shuttle — transportasi berbasis energi bersih untuk turis lokal.
Teknologi hijau ini bukan hanya efisien, tapi juga simbol komitmen terhadap masa depan pariwisata yang berkelanjutan.
◆ Penutup: Traveling 2025, Menjelajah dengan Kesadaran Baru
Traveling 2025 membawa kita ke era baru pariwisata: digital, berkelanjutan, dan penuh makna.
Teknologi membantu kita menjelajah lebih mudah, tapi juga mengingatkan untuk tetap peduli pada bumi yang kita pijak.
Dari smart tourism hingga eco-travel, semua mengarah ke satu tujuan — liburan yang tidak hanya indah untuk dinikmati, tapi juga baik untuk masa depan.
Indonesia, dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, punya peluang besar untuk jadi contoh dunia dalam menggabungkan teknologi dan kelestarian.
Dan bagi para traveler masa kini, menjelajah bukan sekadar mencari tempat baru, tapi juga menemukan cara baru untuk mencintai bumi.
Referensi:
-
Wikipedia: Virtual reality dalam pariwisata